Soetopo Barutu : Seluruh Warga Binaan Lapas Gunungsitoli Dalam Keadaan Sehat

60

Infonias.com | Gunungsitoli – Dalam rangka menambah keharmonisan antara Lapas Gunungsitoli dengan para Jurnalis, Kepala Lapas Gunungsitoli bapak (Soetopo Barutu) mendapat Kunjungan dari para insan media, Senin (18/01/21).

Pada kesempatan tersebut, Kepala Lapas Kelas II B Gunungsitoli bapak (Soetopo Barutu) mengatakan bahwa kegiatan ini mempererat jalinan silaturahim sekaligus membangun kerjasama dengan Lapas Gunungsitoli dengan para Jurnalis, untuk saling bersinergi dalam bidang pemberitaan agar di wilayah Lapas Gunungsitoli kedepannya lebih baik.

Selain itu, Soetopo Barutu mengungkapkan bahwa seluruh tahanan dan warga binaan dalam keadaan baik dan sehat-sehat semua, namun untuk mencegah terjadinya penyebaran Covid-19 di lingkungan Lembaga Permasyarakatan yang di bawahinya, sementara di tiadakan kunjungan untuk melindungi para tahanan dan warga binaan itu sendiri.

” Ya kita tiadakan kunjungan keluarga bagi tahanan, guna mencegah penyebaran Covid-19 dalam lingkungan Lapas Gunungsitoli,” ucap Kalapas.

Sementara dalam penjelasannya, Kalapas Gunungsitoli, sangat mengharapkan kepada masyarakat, agar lebih meningkatkan kewaspadaan serta menjaga diri, baik tutur kata dan tindakan, dimana pada saat sedang mengkonsumsi minuman keras dapat menjadi sebuah masalah, hingga bisa berakibat fatal menjadi tindak kriminal yang bisa berujung pada kematian.

” Hal tersebut bisa terjadi kepada saudara kandung, anak, istri bahkan bisa menghilangkan nyawa sendiri, ketika telah konsumsi Tuo Nifaro (Tuak Suling) berlebihan, maka dengan ini, masyarakat diharapkan dapat mengendalikan diri untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan,” harapnya.

Selanjutnya Soetopo Barutu menyampaikan, bahwa tahanan/WBP di Lembaga Permasyarakatan Kelas II B Kota Gunungsitoli, di huni kurang lebih 221 (dua ratus dua puluh satu) orang tahanan, dengan berbagai latar belakang kasus, namun dalam hal ini lebih di dominan kasus penganiayaan dan pembunuhan yang awalnya diakibatkan dari minuman keras khas Nias yang di sebut “Tuo Nifaro (Tuak Suling),” tuturnya.

Lebih lanjut, Kalapas Gunungsitoli bapak (Soetopo Barutu) menyampaikan himbauan terhadap kasus-kasus kecil yang mungkin bisa di atasi di tingkat Desa, agar bisa diselesaikan dan diberikan sanksi berupa Hukum Adat di Desa setempat.

” Kasus-kasus kecil yang timbul ditengah-tengah masyarakat, lebih baik diselesaikan ditingkat Desa, tanpa harus mendekam ke penjara. Dengan begitu, bisa difungsikan Ketua Adat atau Kepala Desa setempat dalam menangani masalah tanpa harus tercatat namanya di Kepolisian,” katanya Soetopo Barutu.

Penulis : Else Mendrofa
Editor    : Redaksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here